Sejarah Film 1900–1950
Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa adalah buku sejarah sinema Hindia Belanda
(sekarang Indonesia) tahun 2009 yang ditulis
oleh Misbach Yusa Biran. Buku ini diterbitkan
oleh Komunitas Bambu bekerja sama dengan
Dewan Kesenian Jakarta. Buku ini ditanggapi
positif oleh pembaca.
(sekarang Indonesia) tahun 2009 yang ditulis
oleh Misbach Yusa Biran. Buku ini diterbitkan
oleh Komunitas Bambu bekerja sama dengan
Dewan Kesenian Jakarta. Buku ini ditanggapi
positif oleh pembaca.
Sejarah Film 1900–1950 terdiri dari tiga bab
dan menyertakan banyak ilustrasi,
termasuk foto tokoh-tokoh dan lokasi
ternama, poster film, iklan, gambar promosi,
dan sampul majalah.Kata pengantarnya,
berjudul "Menghindar Kekacauan dan Menolak Pengabaian",
ditulis oleh produser dan kritikus film Eric Sasono.
Buku ini memiliki tiga apendiks,
termasuk daftar film Hindia Belanda, daftar bioskop,
dan reproduksi korespondensi antara personel film dari Hindia Belanda. Sumber buku ini beragam, mulai dari wawancara pribadi
hingga koran dan surat-surat kontemporer.
dan menyertakan banyak ilustrasi,
termasuk foto tokoh-tokoh dan lokasi
ternama, poster film, iklan, gambar promosi,
dan sampul majalah.Kata pengantarnya,
berjudul "Menghindar Kekacauan dan Menolak Pengabaian",
ditulis oleh produser dan kritikus film Eric Sasono.
Buku ini memiliki tiga apendiks,
termasuk daftar film Hindia Belanda, daftar bioskop,
dan reproduksi korespondensi antara personel film dari Hindia Belanda. Sumber buku ini beragam, mulai dari wawancara pribadi
hingga koran dan surat-surat kontemporer.
Di kata pengantar, Biran membahas film-film
pertama yang ditayangkan di Hindia Belanda
(sekarang Indonesia) dan perkembangannya sejak 1900
hingga pertengahan 1920-an. Ia kemudian menjelaskan
peran troupe panggung dalam industri hiburan Hindia Belanda pada masa itu.
Di akhir bab, ia berpendapat bahwa film-film yang dirilis pada masa itu,
sebelum Darah dan Doa Usmar Ismail (1950),
tidak bisa dianggap benar-benar "Indonesia" karena orientasinya komersial.
pertama yang ditayangkan di Hindia Belanda
(sekarang Indonesia) dan perkembangannya sejak 1900
hingga pertengahan 1920-an. Ia kemudian menjelaskan
peran troupe panggung dalam industri hiburan Hindia Belanda pada masa itu.
Di akhir bab, ia berpendapat bahwa film-film yang dirilis pada masa itu,
sebelum Darah dan Doa Usmar Ismail (1950),
tidak bisa dianggap benar-benar "Indonesia" karena orientasinya komersial.
Bab berikutnya membahas upaya awal dalam
membuat film dokumenter dan film fiksi.
Bab ini juga membahas secara rinci sejumlahsutradara dan produser
yang aktif saat itu, serta beberapa film seperti film fiksi
pertama di Hindia Belanda, Loetoeng Kasaroeng (1926), film suara pertama di Hindia Belanda, Karnadi Anemer Bangkong (1930),
dan film tersukses pada masa itu, Terang Boelan (1937).[6]
membuat film dokumenter dan film fiksi.
Bab ini juga membahas secara rinci sejumlahsutradara dan produser
yang aktif saat itu, serta beberapa film seperti film fiksi
pertama di Hindia Belanda, Loetoeng Kasaroeng (1926), film suara pertama di Hindia Belanda, Karnadi Anemer Bangkong (1930),
dan film tersukses pada masa itu, Terang Boelan (1937).[6]
Bab kedua, bab terpanjang di buku ini, membahas masa keemasan
perfilman Hindia Belanda antara 1939 dan 1941. Bab ini juga
membahasrumah-rumah produksi besar pada masa itu yang
semuanya dimiliki etnis Cina. Selain itu, ada juga tren-tren
yang sedang hangat saat itu, seperti sistem bintang,
reportase industri, dan tema-tema umum. Film yang
dibahas dalam bab ini meliputi film aksi Rentjong Atjeh,
film romansa Kartinah (keduanya tahun 1940),
dan film tegang supernatural pertama Tengkorak Hidoep.[7]
perfilman Hindia Belanda antara 1939 dan 1941. Bab ini juga
membahasrumah-rumah produksi besar pada masa itu yang
semuanya dimiliki etnis Cina. Selain itu, ada juga tren-tren
yang sedang hangat saat itu, seperti sistem bintang,
reportase industri, dan tema-tema umum. Film yang
dibahas dalam bab ini meliputi film aksi Rentjong Atjeh,
film romansa Kartinah (keduanya tahun 1940),
dan film tegang supernatural pertama Tengkorak Hidoep.[7]
Bab terakhir membahas kondisi industri film
selama pendudukan Jepang (1942–1945)
dan Revolusi Nasional (1945–1949).
Topik-topiknya mencakup propaganda Jepang selama masa pendudukan dan film-film pertama karya Usmar Ismail
pada masa revolusi, serta aktivitas kantor berita Berita Film Indonesia.
selama pendudukan Jepang (1942–1945)
dan Revolusi Nasional (1945–1949).
Topik-topiknya mencakup propaganda Jepang selama masa pendudukan dan film-film pertama karya Usmar Ismail
pada masa revolusi, serta aktivitas kantor berita Berita Film Indonesia.
sumber; id.wikipedia.org